Tempe? Ya tempe! Siapa yang tak kenal tempe? Makanan berbahan dasar yang
ekonomis ini selalu ada dalam menu makan masyarakat Indonesia tiap hari. Sebagai lauk dan pelengkap hidangan, tempe
banyak dijumpai dalam berbagai bentuk olahan. Tapi, tak banyak yang tahu
manfaat dibalik kelezatannya.
Sepotong tempe mengandung
berbagai unsur yang sangat bermanfaat, seperti karbohidrat, lemak,
protein, serat, vitamin, enzim, daidzein, genisten dan komponen anti
bakteri bermanfaat untuk kesehatan. Makanan yang sangat baik untuk
segala usia ini juga memiliki kandungan dan nilai cerna yang lebih baik
dibandingkan dengan kedelai.
Tempe adalah hasil
fermentasi antara kedelai dengan jamur Rhizopus Oligosporus. Setelah
proses fermentasi, terjadi peningkatan nilai gizi hingga 2 kali lipat,
seperti kadar vitamin B2, vitamin B12, niasin dan asam pantorenat. Berikut manfaat-manfaat tempe:
1. Protein yang terdapat dalam tempe sangat tinggi, mudah dicerna sehingga
baik untuk mengatasi diare;
2. Mengandung zat besi, flafoid yang bersifat antioksidan sehingga menurunkan
tekanan darah;
3. Mengandung superoksida desmutase yang dapat mengendalikan radikal bebas,
baik bagi penderita jantung;
4. Penanggulangan anemia. Anemi ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin
karena kurang tersedianya zat besi (Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam
folat dan vitamin B12, di mana unsur-unsur tersebut terkandung dalam tempe;
5. Anti infeksi. Hasil survey menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti
bakteri yang diproduksi oleh karang tempe (R. Oligosporus) merupakan
antibiotika yang bermanfaat meminimalkan kejadian infeksi;
6. Daya hipokolesterol. Kandungan asam lemak jenuh ganda pada tempe bersifat
dapat menurunkan kadar kolesterol;
7. Memiliki sifat anti oksidan, menolak kanker;
8. Mencegah masalah gizi ganda (akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta
berbagai penyakit yang menyertainya, baik infeksi maupun degeneratif;
9. Mencegah timbulnya hipertensi;
10. Kandungan kalsiumnya yang tinggi, tempe dapat mencegah osteoporosis.
Tampilkan postingan dengan label murah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label murah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Agustus 2010
Kamis, 22 Mei 2008
Mengenal 3 Macam Zat Pengawet
Disadari atau tidak, jumlah zat makanan yang banyak mengandung pengawet tidak terhitung jumlahnya. Tidak seluruh zat pengawet berbahaya, namun masyarakat harus berhati-hati karena walaupun suatu zat pengawet aman dikonsumsi, bila dikonsumsi berlebihkan akan tetap berbahaya. Mengapa para produsen mengawetkan produk mereka? Salah satunya karena daya tahan makanan yang memang terbatas dan mudah rusak. Pengawetan dapat menjadikan bahan makanan bisa disimpan berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Alasan lain, beberapa zat pengawet berfungsi sebagai penambah daya tarik makanan itu sendiri. Seperti penambahan kalium nitrit agar olahan daging tampak berwarna merah segar. Secara umum, zat pengawet digolongkan menjadi 3:
1. GRAS atau generally recognized as safe, yang umumnya bersifat alami sehingga aman dan tidak berefek racun sama sekali.
2. ADI atau acceptable daily intake, yang selalu ditetapkan batas penggunaan hariannya guna melindungi kesehatan konsumen.
3. Zat pengawet tidak layak konsumsi, karena berbahaya, seperti formalin, boraks, rhodamin B.
Dikota besar, dengan berbagai kesibukannya, kita selalu mencari sesuatu yang praktis dan serba instan, termasuk untuk makanan. Mulai dari makanan cepat saji, mie instan, kopi instan, dan lain-lain. Terkadang makanan tersebut lebih murah dibanding bila kita membeli bahan makanan segar dan mengolah sendiri. Bagaimananpun makanan yang bersifat alami jauh lebih aman dan menyehatkan. Kita dapat mengganti suplemen vitamin dan mineral dari keju, susu, ikan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
Langganan:
Postingan (Atom)

